Cerita Pemberontakan Bersenjata di Bukittinggi

Cerita Pemberontakan Bersenjata di Bukittinggi – Di puncak perpecahan, kemerdekaan Indonesia masih sangat muda. Karena berbagai sebab dan rentetan ketidakpuasan, gejolak terjadi di tempat tinggal di Sumatera Barat, tepatnya di ibu kota, Bukit Tinggi.

Cerita Pemberontakan Bersenjata di Bukittinggi

Sumber : historia.id

rorybeca – Wilayah administratif Sumatera Barat saat itu merupakan bentuk residen yang dipimpin oleh seorang residen. Muhammad Rasjid (Muhammad Rasjid) sejak 20 Juli 1946.

Pada hari Senin tanggal 3 Maret 1947 pemberontakan dipusatkan di markas pemerintah di Bukittinggi dan beberapa kota lain di Sumatera Barat. Pasukan yang berpartisipasi di Bukit Tinggi sebagian besar adalah milisi Hizbullah dari Solok, Padang Panjang dan Phaya Kampot.

Audrey Kahin memaparkan perubahan dramatis yang terjadi di Minang dalam bukunya “From Rebellion to Integration”, “West Sumatra and Indonesian Politics 1926-1998” (2005).

“Pada 3 Maret 1947, angkatan bersenjata umumnya dari Muslim Laska meluncurkan senjata melawan pemerintah Republik di Bukittinggi dan beberapa kota lain di Sumatera Barat.”

Perlu ditegaskan bahwa perlawanan ini dilakukan oleh pasukan , satuan militer independen di luar tentara reguler. Menurut Audrey, kelompok yang memimpin pemberontakan pagi itu kebanyakan berasal dari partai Islam dan kekuatan militer agama dan sekuler.

Pimpinan rombongan adalah pendiri dan pimpinan Muhammadiya Padangpanjang yang merupakan bupati saat itu, Sadara Yusuf Sultan M. Tuto dan Padan Panjang Adam · Ulama BB, serta beberapa tokoh dari Partai Islam, Hizbullah, Sabirila. dan Ras Jimi. . Pasukan ini di bawah komando Kolonel Hizbullah Jamsuddin Ahmed.

Mengutip liputan6.com, tujuan pokok pemberontakan merupakan buat merebut kewenangan dari penguasa Republik serta menculik kepala pemerintahan di sana, yaitu warga Mohamed Rasjid dan komandan militer Ismail Lengah (Ismail Lengah).

Namun, kedua pemimpin waspada terhadap kemungkinan pemberontakan. Di saat yang sama, pemberontakan sendiri sebenarnya kurang syok, karena tercium seminggu yang lalu. Ketika kedua pemimpin mendapat perlindungan yang memadai, ulama setempat diminta untuk tidak ikut dalam pemberontakan.

Namun, Bukit Tinggi melepaskan tembakan selama beberapa jam. Namun, sebelum mereka memasuki kota, tim penyerang sudah menyerah. Selain gagal merebut Rasjid dan Ismail, ternyata gerakan tersebut lemah dan tidak tertib.

Baca juga : Fakta Baru Selebgram Ari Pratama Tewas di Bunuh

Sejak gerakan ini diketahui sebelumnya, para pemimpin militer Republik telah menyusun rencana aksi untuk menginstruksikan Grup Laskar agar mengambil langkah-langkah pencegahan kekerasan dan meminimalkan kerusakan.

Saafroedin Bahar (Saafroedin Bahar) mengatakan dalam buku “Bangsa, Elit dan Integrasi Nasional: Benteng Minangka 1945-1984 RI 1985-2005” bahwa sekitar 200 personel dari Divisi Bandeng Padang didatangkan untuk menumpas pemberontakan. Menurut Safrodin, instruksi telah diberikan kepada para prajurit untuk meminimalisir kebakaran agar tidak ada korban jiwa yang tidak perlu.

Di bawah rintangan yang rapi, para prajurit berhasil melucuti senjata pasukan paramiliter yang hendak menyerang dan menyerah. Mereka dilucuti dan tidak memburu orang-orang yang mencoba melarikan diri bersama warga sipil.

Saverodin menulis: “Mereka yang mencoba bersembunyi di rumah orang ditinggalkan sendirian dan tidak dikejar.”

Di pinggiran Bukit Tinggi, pembangkang sukses membekuk sebagian pemegang sipil , di antaranya Rusad Datuk Perpatih nan Baringek, Eni Karim, Anwar Sutan Saidi, Gafar Djambek, dokter Roesna, dan istrinya. Kemudian Bupati Murad (Bupati Murad) menjabat sebagai Wakil Kapolsek Padang Panjang. Pada saat yang sama, dalam pertempuran di Bukit Tinggi, tercatat ada seorang tentara tewas dan seorang pemberontak terluka.

Polisi militer kemudian menangkap beberapa pemimpin gerakan yang luar biasa. Banyak tokoh lain juga mencoba menengahi untuk mencari kompromi. Upaya ini ditolak oleh Ismail Lengah. Namun, warga Rasjid dan sejumlah pejabat senior menegaskan bahwa pemberontak tidak boleh sembarangan.

Pada saat yang sama, anggota pemberontak yang ditangkap dipenjara, tetapi beberapa hari kemudian, mereka dibebaskan dan dikembalikan oleh pemerintah dengan membawa uang dan pakaian. Lantas, apa akar permasalahan yang menyebabkan pemberontakan tentara ini?

Kemarahan yang Menumpuk

Sumber : liputan6.com

Safrodin masih menunjukkan dalam bukunya bahwa pada bulan-bulan sebelum pemberontakan meletus, telah terjadi gejolak di antara para penjahat ini. Salah satu penyebabnya adalah kesenjangan pasokan antara prajurit reguler Divisi Kesembilan Banten, yang jauh lebih baik daripada pasokan Laskar. Padahal, dua unit ini berada di front yang sama, yakni kawasan Padang.

Safrodin mengatakan: “Selain itu, mereka percaya bahwa kepemimpinan perjuangan di wilayah tersebut lemah terhadap mantan pejabat pamong praja Hindia Belanda.

Konon para pejabat Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pertemuan di sebuah desa di sepanjang Danau Sinkarak, yang menimbulkan amarah. Konon pertemuan ini menghasilkan “Piagam Sinkarak”, di mana mereka dikabarkan bersiap menerima balasan dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Kemudian poin-poin utama dari “Perjanjian Linggarjati” pun menjadi pemicunya. Kesepakatan tersebut dicapai di Linggarjati, Cirebon dari tanggal 11 hingga 13 November 1946.

“Perjanjian Linggarjati” mengharuskan pasukan Republik di Sumatera Barat mundur dari Kota Padang dan sekitarnya. Para kombatan mungkin hanya memiliki tim polisi kecil dan beberapa pejabat inti pemerintah yang ditempatkan di kota. Ini membuat kesal masyarakat Sumatera Barat.

Wawancara dengan dua pemimpin Hizbullah Sjuib Ibrahim dan Audrey Kahin dari Maksum di Kota Padang pada tanggal 1 Juli 1976 mengungkapkan empat alasan yang lebih penting.

Pertama, mereka tidak puas dengan ketidakseimbangan antara kekuatan politik Islam tingkat nagari yang kurang terwakili di kursi Juna. Kedua, banyak pemimpin residensi yang dituduh memiliki hubungan dekat dengan Belanda dan oleh karena itu dikhawatirkan akan menghambat revolusi.

Ketiga, para prajurit yang berada di garis depan merasa tidak puas, mereka menuduh para petugas Bukit Tinggi senang. Keempat, sebagaimana diungkapkan Safrodin, masyarakat Laska marah karena pasokan pasukan hanya untuk pasukan biasa, dan mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Gejolak di Laskar kemudian mendapat simpati dari Komando Medan Sumatera. Ketika mereka datang ke Sumatera Barat, tanpa sadar mereka berdiri bersama pemimpin laskar Hizbullah setempat. Tim tersebut terdiri dari Kapten Rahmat Tobri, Letnan Zubir Adam, Mohammad Idris dan A. Djauhari Pulungan.

Adapun kedatangan mereka untuk mengusut “Piagam Sinkarak” dan masalah lainnya. Letnan Zubir Ya kemudian menjalin hubungan dekat dengan para pemimpin Islam setempat, terutama dengan Bupati Sal Sultan Mankuto, Bupati Nazaruddin Datok Radho Mankuto dan Kolonel Partai Allah Jamsuddin Ahmed tetap berhubungan dekat.

Simpati terhadap tentara ireguler Hizbullah bahkan datang dari tentara reguler lokal. Komandan kompi lini depan di wilayah Padang, Letnan Ayub Bakar dan kawan-kawannya keluar dari wilayah tanggung jawab dan memilih bergabung dengan pemberontak.

Namun, seperti yang diungkapkan sebelumnya, pemberontakan tersebut gagal. Dua tokoh pemberontak ditangkap dan harus diadili, namanya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, kita sebut Buya Hamka.

Jalan Tengah untuk Laskar

Sumber : d.berita.yahoo.com

Pada tanggal 3 Maret 1947, akibat gagalnya pemberontakan, hanya Saalah Sutan Mangkuto (Saalah Sutan Mangkuto) dan Nazaruddin Datuk Radjo Mangkuto (Nazaruddin Datuk Radjo Mangkuto) yang diadili. Kedua politisi ini.

Persidangan dilakukan dengan Tuan Juri dari tanggal 15 sampai 17 Juni 1947. Harun Al Rasjid didampingi oleh Letkol Burhanuddin dan Mayor Abunawas. Sebagai jaksa, jaksa diserahkan kepada Idrus, dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) sebagai kuasa hukum terdakwa.

Dalam artikel majalah “Panji Masyarakat” edisi pertama, 15 Juli 1978, XX tahun 251, / 9 Sya’ban 1398, halaman 17-23, Buya HAMKA menulis tentang pengalamannya sebagai Penasehat Hukum.

“Kawan-kawan Masyumi dan pimpinan Muhammadiyah Minangkabau memberi saya keyakinan penuh untuk berperan sebagai pembela teman-teman yang ikut dalam peristiwa ini. Di antara mereka ada saudara SY Sutan Mangkuto (yang terakhir), dan saya menggantikannya sebagai pemimpin. Muhammadiyah Sumatera Barat karena dia bupati di Solok, ”tulisnya.

HAMKA mengaku tak menyangka menjadi pengacara dadakan.

“Di era revolusi, hal-hal yang tidak kita duga akan terjadi. Sebelumnya saya tidak pernah sekolah, apalagi masuk sekolah hukum, saya berani menjadi pengacara pembela atau pengacara untuk membela kasus boleh dibilang ya. Tubuh semakin kuat. , dan Menteri Pertahanan Alhamdulillah bekerja dengan baik. ”

Baca juga : Fakta Terbaru Soal Kudeta Myanmar, Puluhan Demonstran Tewas

Pembelaan Buya HAMKA dalam persidangan tersebut membuat Saalah Sutan M Transo hanya bisa mendapatkan penangguhan hukuman dari pengadilan militer. Pada saat yang sama, Nazaruddin Datuk Radjo Mangkuto dijatuhi hukuman satu tahun penjara.

Setelah kejadian tersebut, berbagai upaya rekonsiliasi dilakukan. Namun, kecurigaan di kedua belah pihak terus berlanjut.

Pemimpin Masyumi Mohammad Natsir (asal Sumatera Barat) kemudian pergi ke Bukittinggi untuk memimpin delegasi Masyumi untuk menyelidiki masalah tersebut. Dia kemudian menyimpulkan bahwa meskipun beberapa anggota partai Masyumi ikut serta dalam pemberontakan itu, ia sendiri tidak ikut dalam pemberontakan itu.

Sebelumnya, perintah Presiden Sukarno tanggal 3 Juni 1947 mengharuskan semua Laskas bergabung dengan tentara reguler. Hal ini disambut baik oleh banyak pihak di Sumbar. Terlepas dari semua kendala tersebut, Audrey Kahin menyatakan bahwa pada awal 1948, seluruh pasukan paramiliter berhasil dilebur menjadi komando militer resmi.

Pasca agresi militer Belanda kedua pada 19 Desember 1948, pasukan ini kemudian menjadi pengawal utama Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dalam gerilyawan dari akhir 1948 hingga pertengahan 1949, mereka secara bertahap bersatu dan mempertahankan operasi darurat di Indonesia.

bertha45332356

Next Post

10 Kasus Kecanduan Paling Aneh di Dunia

Sat Mar 13 , 2021
10 Kasus Kecanduan Paling Aneh di Dunia – Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata “kecanduan”? Istilah tersebut sering dikaitkan dengan hal-hal negatif seperti narkoba dan nikotin. Ada lebih sedikit masalah kecanduan, termasuk kecanduan kopi, alkohol, dll. 10 Kasus Kecanduan Paling Aneh di Dunia rorybeca – Menurut penelitian yang dilakukan […]